Pada pertengahan Januari 1982, salah satu impian Imelda Marcos akhirnya terwujud. Festival Film Internasional Manila terlaksana dengan meriah.

Istri Presiden Ferdinand Marcos yang berkuasa di Filipina saat itu memang sangat berambisi membuat Manila menjadi pesaing Cannes sebagai ibu kota film dunia.

Acara yang berlangsung di Manila Film Center berlangsung meriah dan spektakuler. Para bintang film kelas dunia - seperti Geroge Hamilton, Brooke Shields, Franco Nero, Ben Kingsley, and Robert Duvall- hadir dan berpesta di festival itu.

Mereka tidak menyadari, gedung tempat mereka berpesta itu dibayangi tragedi yang merenggut banyak nyawa manusia. Bahkan di bawah lantai yang mereka injak itu pun -konon- terdapat mayat manusia yang belum dikubur dengan layak. Mayat-mayat yang terkubur di lantai itulah yang konon membuat Manila Film Center menjadi tempat paling angker di Manila.

Semua ini diawali oleh impian muluk Imelda Marcos untuk melangsungkan Festival Film Manila di suatu gedung mewah dan dirancang menyerupai Parthenon, kuil yang diperuntukan bagi dewi Yunani Kuno. Celakanya, Imelda mendesak agar gedung tersebut segera diselesaikan dalam waktu pendek.

Bermodalkan 25 juta USD, Manila Film Center dibangun dengan melibatkan tak kurang dari 4 ribu -bahkan ada yang menyebut 7 ribu- pekerja, yang bekerja dalam 3 giliran selama 24 jam tanpa henti. Bayangkanlah, seribu pekerja membangun lobi gedung itu dalam 72 jam, yang normalnya perlu waktu 6 minggu.

Di tengah proses pembangunan, Imelda dan Presiden Marcos mengubah rencana gedung itu. Pembangunan Manila Film Center terpaksa ditunda sedangkan waktu pembukaan festival film semakin mendekat. Proyek ini dikerjakan semakin tergesa-gesa.

17 November 1981. Pukul 3 dini hari. Sebuah tragedi terjadi. Tiang-tiang penyangga lantai paling atas roboh.

Mereka yang sedang bekerja di situ berjatuhan. Banyak pekerja yang langsung masuk ke kubangan semen yang segera mengering. Para pekerja yang sedang beristirahat pun ikut menjadi korban.

Ambulan dan upaya pertolongan tak kunjung tiba. Rupanya, atas nama keamanan, Imelda beserta timnya malah mengisolasi tempat kecelkaan itu.Tak ada satu pihakpun yang diperbolehkan masuk. Tak ada tim penyelamat. Tak ada ambulan. Tak ada apa-apa selama 9 jam! 9 jam! Sudah bisa dibayangkan, itu membuat jumlah korban tewas menjadi tambah banyak.

Siangnya upaya penyelamatan dilakukan terhadap korban yang masih hidup. Itu pun tidak optimal. Kecelakaan ini konon membuat Imelda Marcos khawatir. Ia cemas penyelesaian pembangunan Manila Film Ceneter akan terhambat; dan akan membuat istri presiden itu malu karena festival film internasional yang diimpikannya akan tertunda.

Lalu apa yang terjadi?

Agar bangunan itu segera selesai, munculah perintah untuk tidak berlama-lama melakukan penyelamatan dan perbaikan. Bahkan, ketimbang memperbaiki bagian bawah yang rusak dan dipenuhi jenazah pekerja yang jatuh, ada perintah yang tegas menyatakan, "Semen saja". Artinya, banyak pekerja yang mati di situ tidak diangkat dan dikuburkan dengan layak.

Mayat mereka yang masih terhimpit puing dan dalam masuk dalam adonan semen langsung ikut disemen lagi. Bahkan banyak orang meyakini, korban luka pun ikut terkubur hidup-hidup di situ. Itu sebabnya banyak keluarga korban tidak bisa mengambil jenazah saudara mereka.

Ada rumor yang menyebutkan,perintah untuk segera menyemen bagian yang rusak dan penuh mayat itu datang dari Imelda Marcos. Namun rumor lain menyebutkan, perintah itu datang dari Betty Benitez. Perempuan ini adalah tangan kanan Imelda untuk urusan proyek pembangunan Manila Film Center.

Beberapa bulan setelah tragedi itu, Betty tewas secara aneh dalam sebuah kecelakaan. Istri asisten menteri ini menjadi salah satu penumpang di mobil yang dikendarai oleh O.D. Carpus, mantan rektor Universitas Filipina.

Betty langsung tewas ketika mobil itu meluncur ke luar jalan dan menghantam pohon. Corpus sendiri selamat dalam kecelakaan itu. Malam itu mereka berdua sedang dalam perjalanan menuju Tagaytay. Entah apa rencana sang rektor dan perempuan yang sudah bersuami itu malam-malam.

Penduduk manila segera saja menganggap gedung festival itu angker. Banyak orang menolak bekerja atau bahkan sekadar menonton film di situ.

Melihat gelagat yang tidak menguntungkan itu, Imelda Marcos membawa seorang paranormal ke gedung itu. Ada yang aneh ketika si paranormal kerasukan di lokasi. Biasanya, ia bicara dalam bahasa daerahnya. Tapi saat itu tiba-tiba saja ia berbicara dalam bahasa Inggris, "Sekarang ada 169. Betty bersama kami."

Rumor ini menambah keyakinan warga Manila bahwa korban tewas dalam tragedi Manila Film Center tidaklah sekecil angka resmi yang diumumkan pemerintahnya.

Sampai sekarang warga manila yang masih ingat tragedi itu tetap percaya gedung yang udah berubah fungsi itu tetap dipenuhi hantu. Rintihan orang kesakitan konon sering terdengar di gedung itu. Bahkan ada cerita yang beredar, beberapa bagian tembok itu berkali-kali terlihat mengucurkan darah; di lantainya sering muncul potongan tangan yang merayap-rayap.

Pada tahun 90-an, hampir 10 tahun setelah tragedi itu, seorang asing mengunjungi gedung Manila Film Center. Ia tidak tahu menahu soal tragedi yang merenggut nyawa di gedung itu.

Malam itu ia didatangi seseorang lelaki yang memberinya kartu telepon. Ia diminta menelepon keluarga si lekaki serta mengabarkan bahwa dirinya sehat dan akan segera pulang.

Si orang asing pun lalu menelepon keluarga lelaki itu. Seorang perempuan dengan suara terkejut menjawab bahwa suaminya sudah mati -mayatnya masih terkubur di gedung itu.